Killing Field

Monday, 12 May 2014 22:13 admin
Print

Jumat, 3 Januari 2014. Setelah mengunjungi Royal Palace dan Silver Pagoda, Wat Phnom, kami berlima pun menuju arah luar kota Phnom Penh, Cambodia. Tujuan selanjutnya, Killing Field.

Killing field merupakan saksi bisu sejarah pembantaian dan sekaligus menjadi kuburan massal bagi penduduk Kamboja, korban kejahatan Pol Pot. Menuju kesini kami melewati jalan rusak bergelombang. Hampir satu jam rasanya kami tempuh. Banyak debu, untungnya sopir tuk tuk yang kami sewa sangat baik dan membelikan kami 5 masker di pinggir jalan. Menuju Killing Field kami banyak bertemu turis asing yang memiliki tujuan sama, ada yang menggunakan tuk tuk seperti kami, ada pula yang naik minivan. Ohya kami melewati beberapa SPBU, kalau dikurskan ke rupiah, 1 liter premium di Kamboja seharga sekitar Rp 10.000 lho. Jadi memang benar ya, di Indonesia murah banget.

Akhirnya kami pun sampai di killing field. Untuk masuk kami membayar USD 3/orang. Setelah itu, petugas akan memberikan headset dan brosur kecil. Ohya sebelum petugas memberikan headset, kita harus memilih bahasa yang kita pilih, karena rekaman suara di headset bermacam-macam, ada bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Perancis, dll. Kami pun segera menggunakan headset, memencet tombol 0,membuka brosur yang ternyata berupa peta kawasan Killing Field. Saat headset dinyalakan, kami mendengarkan 'seseorang' berbicara, intinya dia mendeskripsikan kejadian menyedihkan di Killing Field berdasarkan titik titik yang digambarkan di peta dan dibuat monumennya di tiap bagian.

 

Admission Ticket USD 3/pax

Landmark Killing Field


Mendengarkan kisah Kiling Field lewat headset

Monumen di tiap titik


Menyusuri Killing Field

Sedih, sedih, sedih. Itu mungkin gambaran perasaan kami saat napak tilas di Killing Field sambil mendengarkan cerita di headset yang menggambarkan kejadian perih dan kejam di masa lalu. Ya, seseorang yang berbicara di headset adalah saksi sejarah yang menceritakan kembali semua runtutan kejadian secara detail. Kecuali kemampuan bahasa inggris anda terbatas, mungkin anda tidak akan ikut larut dalam kisah pilu ini. Kebanyakan mayat-mayat korban kejahatan kemanusiaan ini, dibuang begitu saja, jadi tidak dikubur. Hal ini membuat banyak petugas restorasi menemukan banyak tengkorak dan tulang belulang yang kemudian dikumpulkan di satu monumen sebagai landmark dari Killing Field. Dari kami berlima, cuma saya dan bu Wiwin, tetangga saya, yang sanggup masuk ke monumen itu, melihat koleksi tengkorak yang tersimpan. Yang lain merasa cukup mual, pusing, sehingga tak sanggup masuk ke monumennya. Yang jelas, semua tengkorak yang berada di monumen, dalam kondisi mengalami retakan, semua.

Last Updated on Monday, 19 May 2014 01:42