jalandulu.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Royal Palace-Phnom Penh

Royal Palace

E-mail Print PDF

Tuk Tuk

3 Januari 2014. "Jadi perjalanan kita pertama hari kedua di Phnom Penh ke Royal Palace ya," kata saya pagi itu sambil menikmati breakfast yang disediakan hotel. Dan seperti biasa Chanda mendapat keberuntungan, dia mendapat 1 porsi breakfast gratis dari hotel (kan satu kamar isi 3 orang jadi harusnya cuma dapat breakfast 2 orang saja). "Kita ikut aja Bu, sampai ketemu jam 8 ya, saya naik dulu," ujar bu Wiwin sambil beranjak pergi menuju kamar bersama putra-putrinya, Chandra dan Kiki. Tepat jam 8 waktu Phnom Penh, kami berkumpul di bawah, naik Tuk Tuk yang sudah kami pesan dan dengan bantuan Staf hotel, kami membantu menyusun jadwal perjalanan dan bernegosiasi terkait tarif yang harus kami bayar. Hari ini kami harus membayar USD 35 atau sekitar USD7/orang untuk 5 tujuan wisata yaitu Royal Palace, Wat Phnom, Killing Field, Central Market, Toul Sleng Museum.

royal palace-phnom penh

Tidak sampai 15 menit kemudian, kami sudah sampai di pelataran tempat semua kendaraan menurunkan wisatawan yang akan mengunjungi Royal Palace. Royal Palace merupakan kompleks bangunan istana kerajaan Kamboja (Preah Barum Reachea Veang Chaktomuk Serei Mongkol) yang juga merupakan kediaman resmi Raja Kamboja dan keluarga kerajaan. Alamat resminya #45 Street 13 and 118 Psar Chas, Phnom Penh 855, Kamboja.

Kami pun melangkah berjalan menyusuri bangunan gedung, mengikuti langkah rombongan wisatawan lainnya yang dipandu Tour Guide. Lumayan, dapat tuntunan gratis. Sampai di loket, saya dan bu Wiwin merapat ke tempat pendaftaran untuk membeli tiket masuk. Royal Palace dibuka untuk umum setiap hari pada pukul 7.30am-11.00 am dan 2.00pm-5.00pm. Tiket masuk menurut sumber resmi sebesar USD 3/pax, USD 2/camera, USD 5/video camera. Tapi saya kok merasa membayar USD 6/orang ya waktu masuk kesana hehehe, entahlah, lupa. "Chandra kok ga bayar separuh ya?" tanya bu Wiwin. Saya pun menggeleng, malas bertanya kepada petugas penjual tiket.

 

Royal Palace

"Yuk kalau mau dapat informasi gratis, kita dekat-dekat Tour Guide aja,lumayan tuh bisa sambil nguping," usul saya kepada rombongan kecil kami berjumlah 5 orang. Pagi ini kami berwisata bersama dua rombongan tur, yang satu rombongan dari Eropa atau Amerika ya, satunya rombongan turis dari asia, mungkin Jepang. Sayangnya ternyata butuh waktu lebih lama kalau harus mengekor Tour Guide. Selain kadang harus menunggu anggota rombongan yang lain, ternyata ngomongnya lama banget euy. "Yang penting ada foto-fotonya," begitu bu Wiwin selalu berkata kepada saya, oke deh!

"Yuk kita lihat bangunan itu, sepertinya itu bangunan utama disini," ajak suami saya. Kami pun bergegas mendekat dan mengabadikan momen disana melalui jepretan lensa kami. Rupanya bangunan utama ini tempat Raja menerima tamu atau mengadakan acara kerajaan. Pengunjung hanya diperkenankan melihat dari luar. Ada beberapa bangunan yang dilarang dikunjungi para wisatawan, sepertinya kediaman Raja dan keluarganya. Ada satu gedung di sebelah gedung utama, cukup ramai pengunjung keluar masuk, "Yuk kita kesitu," ajak saya lagi. Saya pun mencoba bertanya kepada petugas yang berjaga disana, eh dia malah manggil seorang wanita untuk berbicara dengan saya. Rupanya petugas tadi merasa tidak bisa berbahasa Inggris. Dan wanita tersebut pun menjelaskan kepada saya tentang berbagai koleksi yang terdapan di bangunan ini. Ternyata tempat yang kami datangi ini berisi koleksi kelengkapan kerajaan. Salahsatunya berupa koleksi baju-baju dengan warna berbed, rupanya ada aturan untuk memakai baju dengan warna tertenti setiap hari berbeda. Ada juga koleksi baju pernikahan, dan koleksi perhiasan yang terbuat dari perak, kebanyakan berbentu gajah.

Selesai? Kami pun bingung menuju arah keluar kompleks ini. Ada seorang penjaga, malu bertanya sesat di jalan "Excuse me, where is the exit way?" i asked him. "Do you want to go exit? for easy, you just can go out to the way you came in. But are you sure to go out now? Have you visited all complex of Royal Palace?" he asked me. "What do you mean, is there another building to be visited?" i asked him again. "Yes, just go to the left way behind that building, you will find Pagoda Silver. And after that, you will find the exit way after you pass the museum," he smiled. "Oh...thanks a lot for your information," i gave him a beautiful smile also. "Hayukkkk, ternyata belum kelar nih yang dilihat, mari melangkah lagi," ajak saya kepada rombongan kecil saya.

Silver Pagoda

Dan kami pun memasuki kompleks Pagoda Silver yang berada di samping kiri Royal Palace. Seharusnya tadi kami memperhatikan map yang terpampang jelas menjelang pembelian tiket masuk. Haduh, nyaris kelewatan nih. Belum tentu kami akan datang ke Phnom Penh lagi, jadi semua tempat wisata yang kami kunjungi harus bisa optimal. Kenapa dinamakan Silver Pagoda, ya mungkin karena kebanyakan pagoda disini berwarna silver, atau memang terbuat dari silver? Kok ga nanya ya kemarin pas disana. Kemudian kami pun melangkah memasuki bangunan utama di area ini, kami pun harus melepas sepatu. Kami pun masuk ke ruangan yang berlantai kayu. Ada tempat pemujaan, jadi sebagian wisatawan ada yang menyempatkan diri untuk bersembahyang dahulu. Sayang, di ruangan ini kami tidak diperkenankan mengambil foto sama sekali. Disini banyak terdapat koleksi perhiasan dari emas. Lumayan, saat suami saya masih sangat menikmati melihat koleksi perhiasan disini, saya berdiri di dekat kipas angin, wussss....berasa sejuk di antara teriknya matahari diluar sana.


Keluar komples Silver Pagoda, kami disamput musik khas daerah Kamboja yang diperdengarkan para pemain. Selanjutnya kami melewati kompleks museum. Disini banyak ditampilkan rumah adat, kendaraan masa lalu dan koleksi-koleksi yang tentu saja mewakili Kamboja di masa lalu.

Museum

Bagian terakhir adalah koleksi foto-foto para pemimpin Kamboja dengan beberapa pemimpin dunia, termasuk dengan bapak Ir. Soekarno, Presiden RI pertama. Huraaaa. "Itu tadi Kiki lho yang lihat dan nemuin," bisik bu Wiwin kepad saya.

Kami pun bergegas keluar, sudah lebih dari 1 jam kami berada disana, kami harus segera melanjutkan agenda kami ke 3 tempat lagi. Sampai diluar, kami pun mencari sopir tuk tuk kami, sambil menunggu tuk tuk datang menjemput, kami menyempatkan diri membeli buah-buahan segar, saat kami membayar USD 1 ternyata kami dapat buah sangat banyak (dibandingkan kemarin saat beli di Central Market). Dan mari kita naik tuk tuk sambil menikmati perjalanan, tujuan kami selanjutnya adalah Wat Phnom.

Foto Presiden Sukarno di Museum Royal Palace

Menurut buku yang kami baca, di Wat Phnom terdapat pagoda dan museum, sayang karena kami semua merasa lelah naik tangga keatas, kami pun hanya berfoto dari bawah sambil membeli makanan (seperti lemang kalau di Indonesia) dengan harga variasi, tergantung besar kecilnya. Murah kok, tidak sampai USD 1 per batangnya.

Wat Phnom

 

Last Updated on Monday, 19 May 2014 02:21  
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday4
mod_vvisit_counterYesterday42
mod_vvisit_counterThis week46
mod_vvisit_counterLast week703
mod_vvisit_counterThis month2076
mod_vvisit_counterLast month3538
mod_vvisit_counterAll days693625

We have: 4 guests online
Your IP: 54.166.188.64
 , 
Today: Nov 21, 2017

Jalan2 ke Luar Negeri


Chat Dengan Admin

Chat Dengan Alex

Chat Dengan Putut

Chat Dengan Riris

Chat Dengan Totok


Newsflash

Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.